Semut dan Kepompong



Di suatu hutan yang rindang, hidup berbagai binatang buas dan jinak. Ada kelinci, burung, kucing, capung, kupu-kupu dan yang lainnya. Pada suatu hari, hutan dilanda badai yang sangat dahsyat. Angin bertiup sangat kencang, menerpa pohon dan daun-daun. Kraak…terdengar bunyi dahan-dahan berpatahan. Banyak hewan yang tidak dapat menyelamatkan dirinya, kecuali si semut yang berlindung di dalam tanah. Badai baru berhenti ketika pagi menjelang. Matahari kembali bersinar hangatnya.

Tiba-tiba dari dalam tanah muncul seekor semut. Si semut terlindung dari badai karena ia bisa masuk ke sarangnya di dalam tanah. Ketika sedang berjalan, ia melihat seekor kepompong yang tergeletak di dahan daun yang patah. Si semut bergumam,”Hmm, alangkah tidak enaknya menjadi kepompong, terkurung dan tidak bisa kemana-mana”. “Menjadi kepompong memang memalukan!” “Coba lihat aku, bisa pergi ke mana saja ku mau”, ejek semut pada kepompong. Semut terus mengulang perkataannya pada setiap hewan yang berhasil ditemuinya.

Beberapa hari kemudian, semut berjalan di jalan yang berlumpur. Ia tidak menyadari kalau lumpur yang diinjaknya bisa menghisap dirinya semakin dalam.“Aduh, sulit sekali berjalan di tempat becek seperti ini,” keluh semut. Semakin lama, si semut semakin tenggelam dalam lumpur. “Tolong…tolong,” teriak si semut.

“Wah, sepertinya kamu sedang kesulitan ya…?” Si semut terheran mendengar suara itu. Ia memandang kesekelilingnya mencari sumber suara. Dilihatnya seekor kupu-kupu yang indah terbang mendekatinya. “Hai, semut aku adalah kepompong yang dahulu engkau ejek. Sekarang aku sudah menjadi kupu-kupu. Aku bisa pergi ke mana saja dengan sayapku. Lihat… sekarang kau tidak bisa berjalan di lumpur itu kan?” Yah, aku sadar…. Aku mohon maaf karena telah mengejekmu. Maukah kau menolongku sekarang…?” kata si semut pada kupu-kupu.

Akhirnya kupu-kupu menolong semut yang terjebak dalam lumpur penghisap. Tidak berapa lama, semut terbebas dari lumpur penghisap tersebut. Setelah terbebas, semut mengucapkan terima kasih pada kupu-kupu. “Tidak apa-apa, memang sudah kewajiban kita untuk menolong yang sedang kesusahan bukan?, karenanya kamu jangan mengejek hewan lain lagi ya…? Karena setiap makhluk pasti diberikan kelebihan dan kekurangan oleh yang Maha Pencipta. Sejak saat itu, semut dan kepompong menjadi sahabat karib.

Moral : Sesama makhluk ciptaan Tuhan, janganlah saling mengejek dan menghina, karena siapa tahu yang dihina lebih baik kedudukannya daripada yang menghina.

Sumber : Elexmedia
Read more »

Keong Mas


Keong Mas

Raja Kertamarta adalah raja dari Kerajaan Daha. Raja mempunyai 2 orang putri, namanya Dewi Galuh dan Candra Kirana yang cantik dan baik. Candra kirana sudah ditunangkan oleh putra mahkota Kerajaan Kahuripan yaitu Raden Inu Kertapati yang baik dan bijaksana. Tapi saudara kandung Candra Kirana yaitu Galuh Ajeng sangat iri pada Candra kirana, karena Galuh Ajeng menaruh hati pada Raden Inu kemudian Galuh Ajeng menemui nenek sihir untuk mengutuk candra kirana. Dia juga memfitnahnya sehingga candra kirana diusir dari Istana ketika candra kirana berjalan menyusuri pantai, nenek sihirpun muncul dan menyihirnya menjadi keong emas dan membuangnya kelaut. Tapi sihirnya akan hilang bila keong emas berjumpa dengan tunangannya.

Suatu hari seorang nenek sedang mencari ikan dengan jala, dan keong emas terangkut. Keong Emas dibawanya pulang dan ditaruh di tempayan. Besoknya nenek itu mencari ikan lagi dilaut tetapi tak seekorpun didapat. Tapi ketika ia sampai digubuknya ia kaget karena sudah tersedia masakan yang enak-enak. Sinenek bertanya-tanya siapa yang memgirim masakan ini.
Begitu pula hari-hari berikutnya sinenek menjalani kejadian serupa, keesokan paginya nenek pura-pura kelaut ia mengintip apa yang terjadi, ternyata keong emas berubah menjadi gadis cantik langsung memasak, kemudian nenek menegurnya " siapa gerangan kamu putri yang cantik ? " Aku adalah putri kerajaan Daha yang disihir menjadi keong emas oleh saudaraku karena ia iri kepadaku " kata keong emas, kemudian candra kirana berubah kembali menjadi keong emas. Nenek itu tertegun melihatnya.
Sementara pangeran Inu Kertapati tak mau diam saja ketika tahu candra kirana menghilang. Iapun mencarinya dengan cara menyamar menjadi rakyat biasa. Nenek sihirpun akhirnya tahu dan mengubah dirinya menjadi gagak untuk mencelakakan Raden Inu Kertapati. Raden Inu Kertapati Kaget sekali melihat burung gagak yang bisa berbicara dan mengetahui tujuannya. Ia menganggap burung gagak itu sakti dan menurutinya padahal raden Inu diberikan arah yang salah. Diperjalanan Raden Inu bertemu dengan seorang kakek yang sedang kelaparan, diberinya kakek itu makan. Ternyata kakek adalah orang sakti yang baik Ia menolong Raden Kakek itu memukul burung gagak dengan tongkatnya, dan burung itu menjadi asap.
Akhirnya Raden Inu diberitahu dimana Candra Kirana berada, disuruhnya raden itu pergi kedesa dadapan. Setelah berjalan berhari-hari sampailah ia kedesa Dadapan Ia menghampiri sebuah gubuk yang dilihatnya untuk meminta seteguk air karena perbekalannya sudah habis. Tapi ternyata ia sangat terkejut, karena dari balik jendela ia melihatnya tunangannya sedang memasak. Akhirnya sihirnya pun hilang karena perjumpaan dengan Raden Inu. Tetapi pada saat itu muncul nenek pemilik gubuk itu dan putri Candra Kirana memperkenalkan Raden Inu pada nenek. Akhirnya Raden Inu memboyong tunangannya keistana, dan Candra Kirana menceritakan perbuatan Galuh Ajeng pada Baginda Kertamarta.
Baginda minta maaf kepada Candra Kirana dan sebaliknya. Galuh Ajeng mendapat hukuman yang setimpal. Karena takut Galuh Ajeng melarikan diri kehutan, kemudian ia terperosok dan jatuh kedalam jurang. Akhirnya pernikahan Candra kirana dan Raden Inu Kertapatipun berlangsung. Mereka memboyong nenek dadapan yang baik hati itu keistana dan mereka hidup bahagia. Inu dari burung gagak itu.
Read more »

Lutung Kasarung

http://3.bp.blogspot.com/_mjygrVVadnY/Rru9tRYIU6I/AAAAAAAAAA0/38ODzTLrcwE/s320/Lutung_Kasarung_by_winrymarini.jpg http://i40.photobucket.com/albums/e229/bentangpustaka/remaja/anak/lutung.jpg


Prabu Tapa Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. "Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta," kata Prabu Tapa.

Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. "Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya," gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. "Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !" ujar Purbararang.

emudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, "Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri". "Terima kasih paman", ujar Purbasari.

Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.

Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.

Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. "Apa manfaatnya bagiku ?", pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.

Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. "Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !", kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.
Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku", kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, "Jadi monyet itu tunanganmu ?".

Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.

Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.
Read more »

Putri Nilarani



Dahulu kala di Propinsi Jawa Barat ada sebuah negeri bernama Kerajaan Pasir Batang. Rajanya bernama Marundata. Ia mempunyai seorang putri cantik bernama Nilarani. Ada suatu peristiwa aneh yang menimpa keluarga Raja. Putri Nilarani hilang tanpa meninggalkan jejak. Sejak itu seluruh penghuni Istana kerajaan menjadi risau. Raja Marundata mengerahkan seluruh prajurit kerajaan untuk mencari Putri Nilarani tetapi hasilnya nihil. Untuk itu, Raja Marundata mengadakan sayembara. “Barang siapa yang dapat menemukan Putri Nilarani. Kalau dia laki-laki akan dinikahkan dengan putri. Kalau dia wanita, akan diangkat sebagai saudara dan dihargai seperti layaknya seorang putri kerajaan.


Setelah sayembara diumumkan, maka berdatanganlah para ksatria dari berbagai kerajaan. Ada seorang putra mahkota Kerajaan Gantar Buana bernama Pangeran Sumirat. Ia tampan dan gagah perkasa. Pangeran Sumirat merasa sedih mendengar nasib Putri Nilarani. Betapapun ia tidak mengikuti sayembara, namun berusaha menemukan sang putri. Pangeran Sumirat beserta Ki Bela seorang abdi setianya meninggalkan Kerajaan Gantar Buana mencari Putri Nilarani. Pada suatu hari, mereka tiba di sebuah kampung termasuk wilayah Kerajaan Pasir Batang. “Hari sudah gelap, hamba mohon agar tuan-tuan jangan meneruskan perjalanan. Sebab di daerah ini tidak aman. Gerombolan perampok selalu mengancam penduduk desa, pemimpin gerombolannya bernama Bardata,” kata seorang penduduk.

Pangeran Sumirat dan Ki Bela mengikuti permintaan penduduk desa itu. Lalu mencari penginapan. Ketika hendak memasuki sebuah penginapan, seorang lelaki berwajah buruk menghadangnya. “Harta atau nyawa!” bentak lelaki berwajah buruk itu. Dialah Bardata. Melihat gelagat yang kurang menguntungkan itu, Pangeran Sumirat dan Ki Bela mengambil sikap waspada. Mereka dikepung oleh anak buah Bardata. “Kalian tak mungkin keluar dari sarangku!” ancam Bardata. “Cepat bereskan!” tambahnya. Terjadilah pertarungan seru.

Pangeran Sumirat adalah Putra Mahkota Raja. Ia telah digembleng dengan berbagai ilmu kesaktian. Demikian pula Ki Bela. Ilmu bela dirinya cukup hebat, walaupun tak sehebat Pangeran Sumirat. Menerima serangan dari anak buah Bardata, Pangeran Sumirat dan Ki Bela mengamuk. Hanya dalam tempo yang singkat anak buah Bardata terkapar. Bardata segera melarikan diri, namun dihadang oleh Ki Bela. Tendangan maut Ki Bela menghentikan perlawanan Bardata. Penduduk desa mengucapkan terima kasih atas jasa Pangeran Sumirat dan Ki Bela yang telah menumpas gerombolan perampok yang sangat ditakuti itu.

Besok paginya, Pangeran Sumirat dan Ki Bela melanjutkan perjalanan. Mereka tiba di desa Banyubiru. Kebetulan hari itu hari pasar. Pandangan mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang gadis berkulit hitam legam sedang membeli ramuan di sebuah kios. “Kalau kulitnya tidak hitam legam, dia sebenarnya gadis cantik. Hem, mari kita selidiki siapa dia sebenarnya,” kata Pangerang Sumirat kepada Ki Bela. Merasa ada yang memperhatikan dengan berlebihan, gadis hitam legam itu segera meninggalkan kios. Pangeran Sumirat dan Ki Bela dengan sangat berhati-hati mengikuti perjalanan gadis itu. Gadis hitam legam itu tiba di sebuah gubuk. Pangeran Sumirat dan Ki Bela mengendap-endap mengintai apa yang terjadi di dalam gubuk. “Kau telah melaksanakan tugas dengan baik,” kata seorang Nenek keriput yang berwajah seram. Dia dikenal dengan sebutan Nenek Sihir. Ia menculik Putri Nilarani, karena Raja Marundata telah nyaris membinasakan cucunya yang bernama Duruwiksa. Adapun ramuan obat akan digunakan untuk mengobati luka-luka cucunya itu.

Tidak berapa lama kemudian, datanglah seorang laki-laki bertampang garang. Ia segera memberitahukan bahwa para pengikut sayembara yang diadakan Raja Marundata diikuti oleh para ksatria sakti dari berbagai Kerajaan. “Persetan dengan mereka!” kata Nenek Sihir itu. “Kau tidak usah khawatir, pasti Nilarani tidak akan dapat ditemukan!” lanjutnya. Dijelaskan pula bahwa Putri Nilarani, kulitnya tetap hitam legam. Kecuali dia minum ramuan dari dalam kendi yang disimpan rak paling atas di dalam ruangan itu.

Sekarang saatnya kita menolong gadis hitam legam yang ternyata Putri Nilarani itu!” bisik Pangeran Sumirat. Ki Bela mengangguk. Mereka segera mendobrak pintu gubuk. Penghuni gubuk terkesiap dan segera mengadakan perlawanan. Terjadilah pertarungan sengit. Pangeran Sumirat dan Ki Bela bahu membahu meredam serangan Nenek Sihir dan anak buahnya. Satu tending Pangeran Sumirat mengenai Nenek Sihir. Nenek Sihir terpelanting dan jatuh di atas tungku berapi. Api tungku berkobar. Gubuk pun terbakar. Pangeran Sumirat dan Ki Bela segera membawa gadis hitam legam dari dalam gubuk. Namun, sebelum keluar dari gubuk, Ki Bela berhasil mengambil kendi berisi ramuan yang dapat memulihkan Puteri Nilarani seperti yang dijelaskan Nenek Sihir.

Setelah mencari tempat yang aman, gadis hitam legam segera minum ramuan dari dalam kendi. Setelah minum, gadis itu menggigil dan pingsan. “Apakah Ki Bela tidak salah ambil kendinya?” tanya Pangeran Sumirat khawatir. “Tidak”, jawab Ki Bela yakin. Tubuh gadis hitam legam menjadi kaku. Dan tiba-tiba mengepulkan asap kebiru-biruan. Kemudian peluh membasahi tubuhnya. Tetapi, perlahan-lahan warna kulit hitam itu luntur, berubah menjadi kuning langsat. Ternyata tidak lain, dialah Putri Nilarani. Putri Nilarani sadar dan menatap wajah Pangeran Sumirat dan Ki Bela.

Saya ucapkan terima kasih atas pertolongan tuan-tuan,” kata Putri Nilarani terbata. “Berterimakasihlah kepada Yang Kuasa. Karena kehendakNya kau bisa pulih seperti sedia kala,” jawab Pangeran Sumirat merenda. Putri Nilarani mohon diantar pulang ke Istana Kerajaan Pasir Batang. Tentu saja Pangeran Sumirat tidak keberatan. Raja Marundata bersama Permaisuri menyambut gembira atas kedatangan putrinya. Apalagi diantar oleh seorang ksatria yang gagah perkasa. Raja Marundata tidak ingkar janji dengan sayembara yang telah diumumkan. Akhirnya Putri Nilarani menikah dengan Pangeran Sumirat. Mereka menjadi pasangan yang berbahagia sampai akhir hayat.

Sumber : Elexmedia
Read more »

Benda Wasiat






Harimau sedang asyik bercermin di sungai sambil membasuh mukanya. "Hmm, gagah juga aku ini, tubuhku kuat berotot dan warna lorengku sangat indah," kata harimau dalam hati. Kesombongan harimau membuatnya suka memerintah dan berbuat semena-mena pada binatang lain yang lebih kecil dan lemah. Si kancil akhirnya tidak tahan lagi. "Benar-benar keterlaluan si harimau !" kata Kancil menahan marah. "Dia mesti diberi pelajaran! Biar kapok! Sambil berpikir, ditengah jalan kancil bertemu dengan kelinci. Mereka berbincang-bincang tentang tingkah laku harimau dan mencoba mencari ide bagaimana cara membuat si harimau kapok.

Setelah lama terdiam, "Hmm, aku ada ide," kata si kancil tiba-tiba. "Tapi kau harus menolongku," lanjut si kancil. "Begini, kau bilang pada harimau kalau aku telah menghajarmu karena telah menggangguku, dan katakan juga pada si harimau bahwa aku akan menghajar siapa saja yang berani menggangguku, termasuk harimau, karena aku sedang menjalankan tugas penting," kata kancil pada kelinci. "Tugas penting apa, Cil?" tanya kelinci heran. " Sudah, bilang saja begitu, kalau si harimau nanti mencariku, antarkan ia ke bawah pohon besar di ujung jalan itu. Aku akan menunggu Harimau disana." "Tapi aku takut Cil, benar nih rencanamu akan berhasil?", kata kelinci. "Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut aku si kancil yang cerdik". "Iya, iya. Aku percaya, tapi kamu jangan sombong, nanti malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau lagi."

Si kelincipun berjalan menemui harimau yang sedang bermalas-malasan. Si kelinci agak gugup menceritakan yang terjadi padanya. Setelah mendengar cerita kelinci, harimau menjadi geram mendengarnya. "Apa ? Kancil mau menghajarku? Grr, berani sekali dia!!, kata harimau. Seperti yang diharapkan, harimau minta diantarkan ke tempat kancil berada. "Itu dia si Kancil!" kata Kelinci sambil menunjuk ke arah sebatang pohon besar di ujung jalan. "Kita hampir sampai, harimau. Aku takut, nanti jangan bilang si kancil kalau aku yang cerita padamu, nanti aku dihajar lagi," kata kelinci. Si kelinci langsung berlari masuk dalam semak-semak.

Hai kancil!!! Kudengar kau mau menghajarku ya?" Tanya harimau sambil marah. "Jangan bicara keras-keras, aku sedang mendapat tugas penting". "Tugas penting apa?". Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk bulat, yang tergantung pada dahan pohon di atasnya. "Aku harus menjaga bende wasiat itu." Bende wasiat apa sih itu?" Tanya harimau heran. "Bende adalah semacam gong yang berukuran kecil, tapi bende ini bukan sembarang bende, kalau dipukul suaranya merdu sekali, tidak bisa terlukis dengan kata-kata. Harimau jadi penasaran. "Aku boleh tidak memukulnya?, siapa tahu kepalaku yang lagi pusing ini akan hilang setelah mendengar suara merdu dari bende itu." "Jangan, jangan," kata Kancil. Harimau terus membujuk si Kancil. Setelah agak lama berdebat, "Baiklah, tapi aku pergi dulu, jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa ya?", kata si kancil.

Setelah Kancil pergi, Harimau segera memanjat pohon dan memukul bende itu. Tapi yang terjadi…. Ternyata bende itu adalah sarang lebah! Nguuuung…nguuuung…..nguuuung sekelompok lebah yang marah keluar dari sarangnya karena merasa diganggu. Lebah-lebah itu mengejar dan menyengat si harimau. "Tolong! Tolong!" teriak harimau kesakitan sambil berlari. Ia terus berlari menuju ke sebuah sungai. Byuur! Harimau langsung melompat masuk ke dalam sungai. Ia akhirnya selamat dari serangan lebah. "Grr, awas kau Kancil!" teriak Harimau menahan marah. "Aku dibohongi lagi. Tapi pusingku kok menjadi hilang ya?". Walaupun tidak mendengar suara merdu bende wasiat, harimau tidak terlalu kecewa, sebab kepalanya tidak pusing lagi.

Hahaha! Lihatlah Harimau yang gagah itu lari terbirit-birit disengat lebah," kata kancil. "Binatang kecil dan lemah tidak selamanya kalah bukan?". "Aku harap harimau bisa mengambil manfaat dari kejadian ini," kata kelinci penuh harap."


Pesan Moral : Semua makhluk hidup mempunyai kelebihan dan kekurangan. Karena itu, kita tidak boleh sombong dan memperlakukan makhluk hidup lain semena-mena.
Read more »

Burung Elang Dan Burung Gagak



Di sebuah padang rumput yang luas, terdapat banyak hewan sedang mencari makan. Di antaranya adalah kawanan domba yang sedang digembalakan oleh penggembala. Pada salah satu pohon, ada seekor burung gagak sedang menatap ke arah kawanan domba tersebut.. “Mmmh… aku lapar sekali,sejak pagi belum makan,” ujarnya.


Tiba-tiba, seekor elang raksasa terbang rendah di dekatnya. Kemudian, elang itu menyambar seekor anak domba dan menerbangkannya ke angkasa. “Wah, hebat sekali si elang, aku iri padanya,” ucap si gagak dalam hati. Lalu ia merencanakan untuk berburu seekor anak domba pula. “Aku juga bangsa burung. Aku pun harus bisa menyambar seekor anak domba seperti elang tadi,” pikirnya. Kemudian si gagak mulai terbang dan melintas di atas padang rumput. Ia hendak memilih seekor anak domba untuk dijadikan mangsanya. “Hmm, lebih baik aku memilih domba yang besar saja. Dagingnya pasti lebih banyak,” pikirnya lagi. Ia bergegas terbang ke kawanan domba. “Ini, yang paling besar dan gemuk,” ujarnya. Ia pun hingga di atas punggung domab yang dipilihnya. Ia menarik domba itu dengan seluruh kekuatannya. Tetapi domba itu berat sekali. Burung gagak tak bisa menggesernya.

Burung gagak menghujamkan cakarnya ke dalam bulu domba yang tebal. Sekali lagi ia berusaha menerbangkan domba itu. Tetapi, memindahkan tubuh domba itu saja ia tidak sanggup. Perbuatan burung gagak itu diketahui oleh penggembala. Penggembala itu lari sambil berteriak,” pencuri…”

Burung gagak berusaha terbang. Malang cakarnya tersangkut di antara bulu domba itu. Ia pun dipukuli oleh penggembala itu.

Pesan Moral : Janganlah melakukan sesuatu yang melebih kemampuan kita. Karena hal tersebut bisa merugikan diri kita.

Sumber : Serial Fabel Indonesia, Elexmedia

Read more »

Monyet dan Ayam


Pada suatu zaman, ada seekor ayam yang bersahabat dengan seekor monyet. Si yamyam dan si monmon namanya. Namun persahabatan itu tidak berlangsung lama, karena kelakuan si monmon yang suka semena-mena dengan binatang lain. Hingga, pada suatu petang Si monmon mengajak Yamyam untuk berjalan-jalan. Ketika hari sudah petang, si monmon mulai merasa lapar. Kemudian ia menangkap si Ayam dan mulai mencabuti bulunya. Yamyam meronta-ronta dengan sekuat tenaga. “Lepaskan aku, mengapa kau ingin memakan sahabatmu?” teriak si Yamyam. Akhirnya Yamyam, dapat meloloskan diri.
Ia lari sekuat tenaga. Untunglah tidak jauh dari tempat itu adalah tempat kediaman si Kepiting. Si Kepiting merupakan teman Yamyam dari dulu dan selalu baik padanya. Dengan tergopoh-gopoh ia masuk ke dalam lubang rumah si Kepiting. Disana ia disambut dengan gembira. Lalu Yamyam menceritakan semua kejadian yang dialaminya, termasuk penghianatan si Monmon.

Pendengar hal itu akhirnya si Kepiting tidak bisa menerima perlakuan si monmon. Ia berkata, "mari kita beri pelajaran si monmon yang tidak tahu arti persahabatan itu." Lalu ia menyusun siasat untuk memperdayai si Monmon. Mereka akhirnya bersepakat akan mengundang si monmon untuk pergi berlayar ke pulau seberang yang penuh dengan buah-buahan. Tetapi perahu yang akan mereka pakai adalah perahu buatan sendiri dari tanah liat. Kemudian si Yamyam mengundang si monmon untuk berlayar ke pulau seberang. Dengan rakusnya si Kera segera menyetujui ajakan itu karena ia berpikir akan mendapatkan banyak makanan dan buah-buahan di pulau seberang. Beberapa hari berselang, mulailah perjalanan mereka. Ketika perahu sampai ditengah laut, Yamyam dan kepiting berpantun. Si Ayam berkokok "Aku lubangi ho!!!" Si Kepiting menjawab "Tunggu sampai dalam sekali!!"

Setiap kali berkata begitu maka si Yamyam mencotok-cotok perahu itu. Akhirnya perahu mereka itu pun bocor dan tenggelam. Si Kepiting dengan tangkasnya menyelam ke dasar laut, sedangkan Si Yamyam dengan mudahnya terbang ke darat. Tinggallah Si monmon yang berteriak minta tolong karena tidak bisa berenang. Akhirnya ia pun tenggelam bersama perahu tersebut.

Disarikan dari Abdurrauf Tarimana, dkk, "Landoke-ndoke te Manu: Kera dan Ayam," Cerita Rakyat Daerah Sulawesi Tenggara, Jakarta: Dept. P dan K, 1978, hal. 61-62

Pesan Moral : Sebagai sahabat, tidak sepatutnya kita mengkhianati atau membohongi teman kita. Perbuatan kita suatu saat pasti akan mendapatkan balasannya.
Read more »

Pinokio Si Boneka Kayu




Di suatu kota, ada sebuah toko milik kakek Gepeto pembuat boneka. “Alangkah senangnya kalau boneka manis ini menjadi seorang anak.”

Setelah kakek berbisik demikian, terjadi satu keajaiban. “Selamat siang, Papa.” Boneka itu berbicara dan mulai berjalan. Dengan amat gembira, kakek berkata, “Mulai hari ini, engkau anakku. Kau kuberi nama Pinokio.” “Agar kau menjadi anak pintar, besok kau mulai sekolah , ya!”

Keesokan paginya, Kakek Gepeto menjual pakaiannya dan dengan uang itu ia membelikan Pinokio sebuah buku ABC. “Belajarlah baik-baik dengan buku ini!” “Terima kasih, Papa. Aku pergi sekolah, dan akan belajar dengan giat.” “Hati-hati ya!” pesan kakek.

Tetapi dari arah yang berlawanan dengan sekolahnya terdengar suara, “Drum, dum, dum, dum.” Ketika Pinokio mendekat ternyata itu adalah tenda sandiwara boneka. Pinokio lalu menjual buku ABC-nya, membeli karcis dengan uang itu dan masuk ke dalam. Di dalam tenda sandiwara, sebuah boneka anak perempuan akan telah dikepung prajurit berpedang. “Lihat! Jahat sekali prajurit itu…” Pinokio naik ke panggung, dan menerjang boneka prajurit. Tali boneka itu putus dan jatuhlah boneka itu. Pemilik sandiwara yang marah segera menangkap Pinokio dan akan melemparnya ke api. “Maafkan aku. Kalau aku dibakar, kasihan papa yang sudah tua,” kata Pinokio. “Aku berjanji pada papa untuk belajar di sekolah dengan rajin. Karena iba, pemilik sandiwara melepaskan Pinokio dan memberinya beberapa keping uang. “Gunakan uang ini untuk membeli buku-buku pelajaranmu,” kata pemilik sandiwara tersebut.

Kemudian Pinokio pergi untuk membeli buku. Tetapi di tengah jalan, Rubah dan Kucing melihat keadaan itu. Mereka menyapa Pinokio dengan ramah. “Selamat siang, Pinokio yang baik. Kalau uang emas itu bertambah banyak, pasti papamu lebih senang, ya!”

Bagaimana cara menambah uang emas ini?” Tanya pinokio. “Gampang. Kau bisa menanamnya di bawah pohon ajaib. Lalu tidurlah, maka pada saat kau bangun nanti, pohon itu akan berbuah banyak sekali uang emas.” Kemudian Pinokio diantar oleh Rubah dan Kucing, menanam uang emasnya di bawah pohon ajaib. Ketika Pinokio mulai tidur siang. Rubah dan Kucing menggali uang emas itu dan menggantung Pinokio di pohon, setelah itu mereka pergi.

Tolong…..” teriak Pinokio ketika sudah bangun dari tidurnya dan mengetahui dirinya tergantung di sebuah pohon. Seorang Dewi yang melihat keadaan Pinokio, mengutus burung elang untuk menolongnya. Burung elang membawa Pinokio dengan paruhnya, dan membawanya ke ruangan di mana Dewi telah menunggu. Dewi menidurkan Pinokio di tempat tidur dan memberinya obat.

Nah, minumlah obat ini maka kau akan cepat sembuh. Setelah itu pulang, ya!” kata Dewi. “Lebih baik mati daripada minum obat yang pahit.” Pinokio terus menolak. Akhirnya Dewi menjadi marah, “Plak plak!” Ia menampar. Lalu datanglah empat ekor kelinci yang menggotong peti mati. Pinokio terkejut sekali, cepat-cepat ia meminum obat yang pahit itu. “Pinokio, mengapa kau tidak pergi ke seolah?” Tanya Dewi. “Hmm.. di jalan, aku menjual buku-ku untuk anak miskin yang kelaparan dan membelikannya roti. Karena itu aku tidak bisa pergi ke sekolah….” Tiba-tiba saja “syuut” hidung Pinokio mulai memanjang. “Pinokio!” Kalau kau berbohong, hidungmu akan memanjang sampai ke langit.” “Maafkan aku. Aku tak akan berbohong lagi.” Pinokio meminta maaf. Dewi tersenyum, dan memerintahkan burung pelatuk mematuki hidung Pinokio, mengembalikannya ke bentuk semula. “Ayo cepat kembali ke rumah, dan belajar ke sekolah!”

Di tengah perjalanan pulang, Pinokio bertemu dengan kereta dunia bermain. Pinokio tidak bisa menahan diri untuk tidak naik. Pinokio telah lupa akan janjinya pada Dewi, setiap hari ia hanya bermain-main saja.

ada suatu hari, Pinokio terkejut melihat wajahnya yang terpantuk di permukaan air. “Ah! Telingaku jadi telinga keledai! Aku pun berbuntut!” teriaknya. Ternyata anak-anak lain pun telah menjadi keledai. Akhirnya Pinokio pun menjadi seekor keledai dan dijual ke sirkus. Pinokio telah melanggar janjinya kepada Dewi, maka ia mendapat hukuman.

etiap hari ia dipecut, dan harus melompati lingkaran api yang panas. Walaupun takut, Pinokio tetap meloncat. Akhirnya ia terjatuh sampai kakinya patah. Pemilik sirkus menjadi marah. “Keledai dungu! Lebih baik dibuang ke laut.” Kemudian Pinokio dilempar ke laut. “Blup blup blup” Pinokio tenggelam ke dasar laut, ikan-ikan datang menggigitnya. Lalu kulit keledai terlepas, dan dari dalamnya muncul si Pinokio. “Terima kasih ikan-ikan.” Sebenarnya Dewi melihat bahwa Pinokio telah menyadari kesalahannya dan memerintahkan ikan-ikan untuk menolongnya.

Sambil berenang, Pinokio berjanji dalam hati “Kali ini setelah aku pulang ke rumah aku akan ke sekolah dan belajar dengan giat. Aku juga akan membantu pekerjaan di rumah dan menjaga papa.” Pada saat itu “Hrrr…., seekor ikan hiu besar datang mendekat dengan suara yang menyeramkan. “Haaa…. Tolong.” Pinokio ditelan oleh ikan hiu yang besar itu. “Hap” Di dalam perut hiu benar-benar gelap gulita. Tetapi di kejauhan terlihat seberkas sinar. Ternyata itu adalah kakek Gepeto.

Papa!” “Pinokio!” Mereka berdua saling berpelukan. “Aku pergi ke laut untuk mencarimu, dan aku ditelan hiu ini. Tapi ternyata di sini aku bertemu denganmu. Untung kita selamat!”

Ayo,kita keluar dari sini!” “Badanku sudah lemah. Kau saja yang pergi.” “Aku tidak mau kalau tidak bersama-sama Papa.” Ketika ikan hiu sedang tidur, Pinokio melarikan diri dari mulut hiu dengan menggendong kakek Gepeto di punggungnya.

Dengan sekuat tenaga ia berenang sampai akhirnya tiba di pantai. Mereka menyewa sebuah pondok petani terdekat. Sambil merawat kakek, Pinokio bekerja setiap hari. Akhirnya kakek menjadi sehat kembali. “Pinokio, karena kaulah aku jadi sehat seperti ini. Terima kasih ya!”

Papa, mulai sekarang aku akan lebih menurut lagi.” Tiba-tiba saja sekeliling mereka menjadi bersinar terang,” Pinokio, kau telah menjadi seorang anak yang baik.” Dewi muncul, dan merubah Pinokio si boneka menjadi seorang anak manusia.

Pesan Moral : Kita harus patuh pada orangtua. Dan janganlah terlalu berlebihan dalam bermain-main karena waktu belajar akan menjadi hilang.
Read more »

Candi Borobudur




1. Sejarah Singkat Candi Borobudur
Keberadaan candi Borobudur ditemukan oleh Gubernur Jenderal Sir Thomas Raffles pada tahun 1814. Saat itu Belanda dan Inggris berperang dan sempat wilayah nusantara dipimpin oleh Inggris. Saat Raffles berkunjung ke Semarang, ia mendapat laporan ada bukit yang penuh dengan relief. Bersama dengan H.C. Cornelius, seorang Belanda, disertai 200 orang dimulailah pembersihan situs berbentuk bukit tersebut.

Tahun 1835 dan seterusnya mulailah tampak wujud sebenarnya bagian atas candi, diteruskan bertahun-tahun hingga dianggap selesai pada tahun 1850-an. Dan pada tahun 1873 seorang artis Belanda, F.C. Wilsen, menerbitkan monograf pertama relief-relief candi Borobudur, hingga kemudian Isidore van Kinsbergen memotret candi tersebut. Namun saat itu status dan struktur candi Borobudur masih diyakini tak stabil.
Awal abad ke-20 dilakukan restorasi besar-besaran oleh Theodoor van Erp, yang bertugas di Magelang, sekaligus tergabung ke dalam Borobudur Commission. Erp melakukan metoda yang disebut anastylosis, yaitu suatu metoda untuk merekonstruksi bangunan tua bersejarah dengan perhitungan, simulasi, disassembly dan disusun kembali dengan bantuan batu, plester, semen untuk menahan struktur dan bagian yang telah hilang. Namun upaya ini kurang sukses karena kurangnya dana, sehingga Erp hanya fokus pada restorasi struktur dan drainase.
Tahun 1973 hingga 1984 UNESCO ikut membantu dalam upaya restorasi dan pendanaan candi ini. Dibongkar lebih lengkap, struktur tanah dan bukit diperkuat, serta kembali batu-batu disusun hingga tampak kemegahannya hingga sekarang. UNESCO pun memasukkannya ke dalam daftar World Heritage Site atau Warisan Dunia UNESCO.
21 Januari 1985 beberapa stupa hancur karena serangan ledakan bom. Beberapa waktu lalu pembangunan di sekeliling candi juga menjadi isu kontroversial. Terakhir, kejadian gempa di Yogyakarta tidak membuat kerusakan struktur candi ini.
Dongeng setempat mengatakan Gunadharma memimpin pembuatan candi ini di jaman Syailendra di akhir abad ke-8. Menurut seorang akademisi Belanda, nama Gunadharma adalah murni bahasa Sansekerta yang berarti dongeng rakyat tersebut bersumber dari fakta sejarah, sebab dongeng rakyat yang semata-mata dongeng hanya menampilkan figur nama lokal/setempat.
Candi Borobudur dibangun sebagai sebuah candi besar, bukan sebuah komplek, yang jika dilihat tegak lurus dari atas berbentuk sebuah mandala besar di atas tanah. Bentuk dasar candi berukuran 123×123 meter, bertingkat 6 berbentuk bujur sangkar dan 3 tingkat ke atasnya berbentuk lingkaran dan ditutup dengan sebuah stupa besar.
Bahan dasar batu diambil dari sungai, dipahat, dibentuk kubus dengan sistem kunci coakan dan sengkedan, tidak ada penggunaan mortar atau bahan pelekat lainnya. Sebagai struktur sebuah bukit –katanya puncak bukit– menjadi tempat penyusunan batu-batu tersebut. Total batu struktur dan termasuk reliefnya –seluas 2.500m2– menghabiskan sekitar 55.000m3.
Gunadharma pun memikirkan sistem drainase, terutama saat musim hujan di mana curah hujan daerah tropis sangat tinggi, tetesan air hujan bisa mengalir deras dari puncak hingga ke bawah. Di tiap tingkat, di setiap sudutnya dibuat 100 lubang air dalam bentuk patung-patung yang unik.
Menurut para ilmuwan pembangunan candi ini memakan waktu 50 tahun. Wajar jika legenda mengatakan Gunadharma sebagai arsiteknya meminta tetap berada di candi tersebut, moksa untuk menjaga kelestarian sebuah karya monumental, baik bagi Gunadharma sendiri, bagi Samaratungga dan putrinya, Pramudawardhani, dan bagi penerus wangsa Syailendra saat itu.
Yang masih menjadi misteri adalah kepastian mengapa wilayah candi Borobudur adalah wilayah yang ditinggalkan. Saat Raffles menemukan candi ini, wilayah tersebut adalah bukan wilayah hunian, sebuah hal yang janggal ketika sebuah tempat peribadatan besar umat Budha tapi tidak ada penduduknya. Bahkan Majapahit atau pun Sunda Galuh tidak mencatat eksistensi candi ini.
Para ilmuwan berkesimpulan Borobudur hilang karena tertimbun ledakan Gunung Merapi di awal abad ke-11, diiringi dengan pengungsian besar-besaran penduduk, menjadi wilayah desertir. Namun pendapat ini pun masih belum bisa dipastikan oleh para ilmuwan dan akademisi.
Legenda Gunadharma pernah diangkat ke dalam sinetron beberapa tahun lalu. Namun saya hanya sempat melihat satu-dua episodenya, mungkin ada faktor rasa tak suka dengan kualitas industri sinetron buatan dalam negeri, tapi sedikit menyesal juga garis besar rangkaian cerita Gunadharma –walau hanya dongeng– tidak saya dapatkan.


2. Bangunan Candi
Candi Borobudur dibuat/dibangun menggunakan batu andesit sebanyak 55.000 m3. Bangunan candi Borobudur berbentuk limas yang berundak-undak dengan tangga naik pada keempat sisinya (timur,selatan,barat,dan utara). pada candi Borobudur tidak ada ruangan dimana orang bisa masuk melainkan hanya bisa naik sampai terasnya.
lebar bangunan candi Borobudur : 123 m
Panjang bangunan candi Borobudur : 123m
Pada sudut yang membelok : 113m
Tinggi bangunan candi : 34,5m
Pada kaki candi yang asli ditutup dengan batu sebanyak 12.750m3, sebagai selasar dan undakannya.
Candi Borobudur merupakan tiruan dari kehidupan pada alam semesta, yang terbagi dalam tiga bagian besar yaitu kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu.


3. Patung Budha
Patung budha di candi Borobudur berjumlah 504 buah, dengan uraian sebagai berikut:
Patung budha yang berada pada relung-relung : 432 buah
sedangkan pada teras I,II,III : 72 buah
Jumlah 504 buah
Sekilas patung-patung budha itu tampak serupa semuanya, tetapi sesungguhnya ada juga perbedaan-perbedaannya. Perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu dan yang lainya ialah sikap tangannya, yang disebut mudra dan merupakan cirri khas untuk setiap patung. Sikap tangan budha di candi Borobudur ada enam macam, hanya saja oleh karena macam mudra yang dimiliki oleh patung-patung yang menghadap semua arah (timur, selatan, barat, dan utara) pada bagian rupadhatu maupun ada bagian arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama, maka jumlah mudra yang pokok ada lima
Kelima mudra itu ialah:
1. Bhumispara-mudra
2. Wara-mudra
3. Dhyana-mudra
4. Aphaya-mudra
5. Dharma cakra-mudra
4. Patung singa
Pada candi Borobudur selain patung budha juga terdapat patung singa, jumlah patung singa seharusnya tidak kurang dari 32 patung, akan tetapi bila dihitung sekarang mungkin jumlahnya kurang dari yang seharusnya ada, karena berbagai sebab.
Satu-satunya patung singa besar, berada pada halaman sisi barat yang juga menghadap ke barat, seolah-oleh sedang menjaga bangunan candi yang megah dan anggun.

5. Stupa
Stupa dalam candi boro budur terdiri dari tiga macam:
1. Stupa induk
Stupa induk berukuran lebih besar dari stupa-stupa lainnya dan terletak ditengah-tengah (paling atas) yang merupakan mahkota dari seluruh monument bangunan candi Borobudur. Garis tengah ± 9,90m.
2. Stupa berlubang/ terawang
Stupa berlubang atau terawang ialah stupa yang terdapat pada teras I,II,dan III dimana di dalamnya terdapat patung budha. Di candi Borobudur seluruh stupa berlubang jumlahnya 72 buah.
3. Stupa kecil
Stupa kecil hampir sama dengan stupa lainnya, hanya perbedaannya yang menonjol adalah dalam ukurannya yang memang lebih kecil dari stupa yang lainnya. Stupa ini seolah menjadi hiasan dari seluruh hiasan candi. Jumlah stupa kecil ada 1472 buah.

6. Relief
LOKASI NAMA RELIEF JUMLAH
Kaki candi asli Karmawibhanga 160 pigura
Tingkat I ……..dinding
langkan Lalitawistara 120 pigura
Jataka/awadana 120 pigura
Jataka/awadana 372 pigura
Jataka/ awadana 128 pigura
Tingkat II…….dinding
langkan Gandawyuha 128 pigura
Jataka/ awadana 100 pigura
Tingkat III……dinding
langkan Gandawyuha 88 pigura
Gandawyuha 88 pigura
Tingkat IV……dinding
langkan Gandawyuha 84 pigura
Gandawyuha 72 pigura
Jumlah relief di candi borobudur 1460 pigura
Read more »

GUA MAHARANI

Pemberian nama gua istana maharani
Keunikan telah terjadi ketika memberi nama gua ini, banyak orang saling mengusulkan nama untuk gua baru ini baik dari pejabat maupun dari masyarakat. Oleh bupati daerah tingkat II lamongan H.R. Mohammad Faried, SH ditetapkan dengan nama MAHARANI. Kemudia gua ini sebagai taman wisata baru oleh H.R. Mohammad Faried ditambahkan dengan GUA ISTANA MAHARANI, atas usulan istri sunyoto nama maharani ditetapkan sampai saat ini.
Pada saat itu H.R. Mohammad Faried S,H menanyakan kepada istrinya. Sebaiknya apa nama gua yang ditemukan segen tersebut yang dibawa pengawasan suaminya? Maka NY. Sunyoto mengusulkan sebuah nama GUA MAHARANI karena mempunyai alasan yang kuat yaitu:
Sehari sebelum tanggal 6 Agustus 1992 Ny. Sunyoto bahwa direlung batu didepan gua baru tempat kerja suaminya ini terlihat seorang wanita cantik memakai mahkota berwarna-warni. Mahkota cantik ini bercahaya kemilau berlapis emas, bertatahkan intan, berlian, bermotif hiasan bunga mawar dan dahlia. Ketika Ny. Sunyoto bangun dalam keheningan malam merasa ada bisikan bahwa dia baru saja melihat mahkota indah milik seorang ratu yang disebut maharani. Sang ratu bermahkota indah ini tampakdalam relung didepan pintu gua akhirnya menjadi kenyataan.
Kebetulan bahwa usulan Ny. Sunyoto mengiginkan nama gua baru tersebut disebut gua maharani sebab cucunya juga mempunyai nama yang sama yang sama yaitu Tiyas Maharani.
B. Isi Gua Alam Istana Maharani
Menurut tata letak ornamen dinding yang ada memiliki bentuk beraneka ragam dengan diberi nama pelataran, paseban, garba, relung, umpak, selo (batu), karang. Kesemua nama tersebut mengandung falsafah kehidupan yang baik. Isi gua memiliki nama-nama dengan bahasa jawa kuno sesuai dengan wujud bentuk batuan.
Pembagian ruang gua istana maharani ada 2 yaitu GARBA JAWI dan GARBA LEBET. Sedangkan garba jawi terdiri 2 relung (ruang cekung) yaitu RELUNG ANDIKA dan RELUNG BALEMUKO, kedua relung ini sebagai relung jobo (luar) dan disebut DWI JAMNO. Sebagai tamsil bahwa segala sesuatu dialam fana ini adanya berpasangan antaralain hidup-mati, pria-wanita, siang-malam,dll. Relung andika berarti ruang tinggi yang berpundak, ruang balemuko berarti ruang pertemuan pertama mempunyai lantai datar berbatu gragal merata. Garba lebet (ruang dalam gua) terdiri dari 2 bagian yaitu PELATARAN JOBO dan PELATARAN JERO, diantaranya 2 pelataran ini ada PASERBAN MAHARANI merupakan ruang luas yang dikelilingi jalan berpagar besi untuk para pengunjung.
Paserban maharani ini dikelilingi oleh 7 relung disebut SAPTO WUJUDING JANMO (tujuh perwujudan manusia) dengan sebutan sebagai berikut:
1. EKO RELUNG BUWONO, artinya satu ruangan bumi
2. DWI RELUNG AGNI, artinya dua ruangan api
3. TRI RELUNG BAYU, artinya tiga ruangan angin
4. CATUR RELUNG TIRTO, artinya empat ruangan air
5. PONCO RELUNG JIWO, artinya lima ruangan jiwa
6. SATTO RELUNG ROGO, artinya enam ruangan raga
7. SAPTO RELUNG SUKMO, artinya tujuh ruangan sukma
Ketujuh sifat dan materi ini menunjukkan bahwa manusia itu hidup karena tujuh unsur yaitu memiliki unsur tanah (badan), unsur api (temperatur badan 37ยบ C), unsur angin (nafas, kentut), unsur air (keringat, darah, air mata, ludah), unsur jiwa, raga, sukma (nyawa). Isi gua ada dilangit-langit gua, dilantai dan didinding gua memiliki nama dan model sebagaimana nama-nama tertulis tadi.
C. Nama-Nama Stalaktit dan Stalakmmit
Sebutan nama stalaktit dan stalakmit semula diajukan oleh bagian humas pemda kabupaten dati II lamongan dengan minta bantuan prof.dr. Suripan dari universitas negeri surabaya sebagai sastrawan ahli masalah kesenian kentrung.
Nama-nama batuan dimaksud adalah sebagaimana uraian berikut ini:
Garba jawi atau gerbang luar terdiri cekungan batu kapur yang ada disumur buatan bersumber dari kali bawah tanah yang airnya diambil untuk air terjun dalam gua, air wudlumushola dan kamar mandi semuanya ini berada dalam RELUNG ANDIKA(ruang atas). Relung yang kedua ialah RELUNG BALEMUKO pelataran menuju pintu yang bernama PINTU BABUSSALAM NUTFAHTUL KHASANAH atau gerbang paksi tatsoko dijaga oleh patung buatan diberi nama Nogowito Tirtomanggolo dan Nogowiro Dahonomanggolo.
Garba lebet terdiri 7 relung berada pada pelataran jobo dan pelataran jero yang di tengahnya ada arena paseban maharani.
pelataran jobo ; batuan stalaktit dan stalakmit yang ada ialah terdiri:
1. EKO RELONG BUWONO: Sekar Kantil Kembar, Sekar Melati Suci, Songgo Buwono.
2. SATTO RELUNG ROGO: Selo Sampeyan, Wojo Yakso, Wono Purwo Mahardiko, Wojo Ifrid, Selo Tasbeh Suci, Selo Mahkota Rama, Selo Putri Maharani.
3. SAPTO RELUNG SUKMO: Selo Waringin, Selo Wasisik, Dampar Singgasana, Janmo Suci, Selo Gajah, Mungkur, Selo Komo Sutro, Selo Pemongso.
4. PELATARAN JERO; batuan stalaktit dan stalakmit yang ada ialah terdiri:
5. DWI RELUNG AGNI: selo rogo sukmo,godo bu wono, ilat nogo, sekarwijaya kusuma.
6. TRI RELUNG BAYU: sekar kenongo,umpak paseban pandadaran,talingan bumi.
7. CATUR RELUNG TIRTO:selo panembahan,welud kuning, tirto salju sutro,glambir maheso maodo,lekuk sarodo, sayuto kartiko suci.
8. PONCO RELUNG JIWO: sekar kenikir gading, umpak paseban parenungan.
9. PASEBAN MAHARANI; batuan stalaktitdan stalakmit yang ada adalah bernama songgo langit, karang langit, mahkota maharani, selo candi pawon, selo candi purwo, selo kodok, selo mego mengdung, selo pelangi gumelar, guru yakso, semua ini ada dipelataran jobo. Selanjutnya yang berada dipelataran jero adalah benteng sengkolo, selo busono pandeto, selo godo rujak polo, selo galih keling, selo tapak tangan, songgo mego, selo tlale gajah, songgo mendung, karang tembok kuning.sekar mayang, karang bumi, karang langit coklat, karang langit gempal, karang langit riti, karang langit glabir.

D. Keajaiban Gua Alam
Jika gua akbar memiliki kelebihan luas dan berada di dalam kota maka gua istana maharani memiliki kelebihan keindahan stalaktit dan stalakmit yang unik dan mempesona serta berada ditepi jalan raya wisata pantai utara jawa dan berada dalam arena wisata tanjung kodok.
Didalam gua terdapat sebuah keris bertuah bermotif ularyang dikuasai oleh jin yang berada dalam gua. Terlihat cahaya keris diatas blower angin, keris yang lain dan batu akik juga banyak bertebara dalam gua namun sulit diambil karena sebagai paku bumi kekuatan gua.
Nama jin wanita penunggu gua maharani temuan sugeng ini adalah maharani dan cocok dengan nama cucu Ny. Sunyoto. Batuan stalakmit dan stalaktit dapat memberikan gambaran falsafah hidup dan merupakan simbul reproduksi modern sebagai realisasi. Pada zaman dahulu ada empat pemujaan untuk pemujaan kesuburan antara lain di candi sukuh berada dikaki gununglawu bung karno telah membuat lambang kesuburan yaitu Lingga dan Yoni. Lingga yaitu lambang kelamin pria (tegak ereksi) dan Yoni adalah lambang rahim (kelamin wanita).
Lambang dalam gua maharani adalah kesuburan tempat menanam benih manusia yang terlambangkan sebagai:
1. Garba Jawi terdiri dari relung andika yaitu tempat masuknya penis pria dalam rahim wanita dan relung balemuko yaitu terjadinya orgasme dalam proses tempat pancara air seperma.
2. Garba Lebet terdiri dari paseban maharani dikelillingi 7 relung yaitu (Buwono, Agni, Bayu, Tirto, Jiwo, Rogo, Sukmo) adalah dalam rahim yang disebut tempat kandungan ibu bersemaian bibit manusia, bersekongkolnya sel jantan dan seltelur.

E. Alur Cerita Batuan Dalam Gua Alam
Gua istana maharani terjadi pada zaman kapur dimana terjadi celah api didasar pegunungan yang kawahnya menyembur lidah api dan kini bekasnya menjadi gua-gua disekitar tanjung kodok dan ada sumber air panas diarahan selatan gua istana maharani. Menurut pengamatan sejarah tak ada seorangpun yang pernah masuk dalam gua ini sebab tidak ada pintu gua, baru pada tanggal 6 agustus 1992 orang pertama yang masuk adalah Sugeng (sang penemu). Untuk menghidupkan legenda batuan stalaktik dan stalakmit dalam gua maharani maka tersusunlah alur cerita sbegai berikut:
Asal-usul manusia nenurut agama samawi adalah keturunan adam dan hawa yang datang dari surga, turun kebumi atas perintah tuhan untuk hidup meramaikan dunia sebagai homosapiens artinya manusia yang bijak berakal. Bangsa indonesia adalah bangsa bahari yang menguasai laut pada masa dulu kala yang mendiami ribuan pulau nusantara adalah cucu adam dan hawa.
Dahuli kala ada seorang pengembara yang berlayar menguasai berbagai lautan nusantara. Pengembara ini adalah sepasang suami istri bernama RAJUL dan MAR’AH, berbudi pekerti baik penuh kasih sayang. Rajul dan Mar’ah telah mendarat diberbagai pantai nusantara dan hidup dalam pengembaraannya menyatu dengan kehidupan suku bangsa setempat.
Pada kesempatan menyusuru patai utara jawa dengan perahu cadik sepasang suami istri ini perahunya terdampar ditanjung berbatu. Mar’ah merasa haus maka mengajak rajul suaminya untuk mencari air minum berjalan kearah timur menapak naik menanjak melewati batuan kapur yang kini menjadi dusun penanjan. Karena kelelahan mereka berjalan gontai sampi dipegunungan tanah tanjung yang penuh batuan, mencari cekungan batu disekitarnya ternyata dijumpai ada gua kecil yang didalamnya ada kali bawah tanah. Keduanya lalu meminum air gua tersebut dengan sepuasnya untuk menghilangkan dahaga.
Rajul dan Mar’ah menamakan tanjung berbatu ini dengan nama tanjung kodoksebab ketika mereka meminum air dalam gua ternyata banyak kataknya (kodok) berada dalam gua yang jumlahnya ribuan ekor. Pada waktua akan keluar melalui pintu gua, pasangan suami-istri ini dikejutkan dengan suara mintak tolong “teot..teot..teot…”. ternyata Rajul dan Mar’ah mengetahui ada dua ekor katak raksasa terjepit batu karang yang tidak dapat melepaskan diri. dengan spontan dan penuh kasih sayang dua sejoli tersebut melakukan upaya menolong melepaskan kedua katak raksasa dari jepitanbatu hingga dapat bebas. Kedua raksasa itu ternyata raja dan ratu katak yang beribu-ribu tahun memimpin katak-katak dalam gua yng ada airnya tersebut. Raja dan ratu katak kembalimemmpin katak-katak kecil yang menjadi rakyatnya. Kali bawah tanah ini sekarang dapat dilihat berada disebelah barat pintu gerbang tanjung kodok, airnya dinaikan keatas untuk memenuhi air wudlu mushola diarena tanjung kodok.
Kedua katak yang menguasai kerajaan kodok ditanjung berbatu dan dikenali dengan nama sri kodok puragung dan sri ayu kodok purnaningrum. Raja dan ratu katak sangat berterima kasih ats pertolongan rajul dan mar’ah yang telah melepaskan diriya darhimpitan batu karang, keduanya menjalin persahabatan dengan penolongnya. Sebab jasa baik ini maka katak mempesilahkan sahabatnya dikawasan tanjung daerah kekuasaanya. Pershabatan ini berlangsung lama sekali dan tolong menolong memenuhi kebutuhan hidup mereka. Rajul dan mar’ah tidak uasah naik perahu cadik lagi, keduanya menyebrangi lautan menuju pulau-pulau di nusantara untuk mencari persaudaraan dan bersilaturrahmi mencari kedamaian.
Pada suatu hari terjadi ombak besar dan angin kencang dimana air laut naik karena es kutub mencair dahsatnya disebabkan panas matahari meningkat mencapai puncaknya. Hal ini diperkirakan bersamaan dengan zaman banjirnya nabi nuh dahulu. Melihat hal ini ternyata semua daratan dan pantainya rendah tenggelam tersapu ombak. Dengan kejadian ono maka raja dan ratu katak khawatir akan nasib kedua sahabatnya yaitu rajul dan mar’ah. Demi membalas jasa keduanya maka raja katak membuka rahasia dengan ikhlas memberikan “rumah gua” miliknya kepada sahabatnya tercinta. Rumah gua ini sangat indah laksana istana. Pada saat itu raju8l dan mar’ah tidak menyangka bahwa keduanya akan mendapatkan hadiah yang tak ternilai harganya. Rajul dan istrinya menerima hadiah ini dengan senang hati dan sangat berterima kasih kepada raja dan ratu katak. Mereka berdua bersyukur kepada tuhan yang maha esa. Mulai saat itu rajul dan mar’ah mendiami istana dalam tanah berbatu karang dengan segala persediaan kebutuhan hidup yang lebih dari cukup. Demi keamanan dari ombak besar yang cukup lama pada waktu itu, maka pintu istana bawah tanah ditepi pantai itu ditutup dari luar oleh raja katak sehingga tidak seorangpun tahu bahwa dikerajaan katak ditanjung kodok ada gua indah seperti istana. Hal ini dilakukan demi keselamatan dua sahabat tercinta. Kedua katak secara sadar dan ikhlas, beribu-ribu tahun siap menjaga diujung tanjung sebagai kesetiaan kepada sahabatnya. Raja dan ratu katak menghadang ombak menghadap kelaut untuk menjaga keselamatanistana dan kedua sahabatnya yang telah menyelamatkan dirinya. Kesetiaan raja dan ratu katak dibuktikan sampai akhir hayat, keduanya mati membeku dan mengeras menjadi batu di ujung tanjung sebagai batu kodok.
Rajul dan mar’ah sebagai orang berbudi hidup rukun membina keluarga sejahtera. Konon menurut legenda rajul dan mar’ah meninggalkan seorang anak dan berkembang keturunannya disekitar tanjung kodok, mar’ah seorang yang cantik bertubuh molek dikenal sebagai ibu Maratusholikhah. Setiap ia mempunyai anak, maka bayi yang dilahirkanya tersebut selalu dimandikan disebuah sumber air yang bersih dan jernih berada dibagian selatan gua istana. Tempat pemandian ini dinamakan sendang agung, jika ada keluarga sakit maka dimandikan dengan air dari dari sumber air panas yang kini dikenal dengan pemandian sumber air panas Brumbun di dusun Tepanas.
Anak tercinta pasangan Rajul dan marah dikenal dengan nama Nutfah. Nutfah adalah anak yang terakhir dari keluarga rajul. Sepeninggalan orang tuanya Nutfah dikenal dengan panggilan Nutfatulkhasanah mencari sesuatu amanat kedua orang tuanya. Dia mendapat wasiat dan diberi peninggalan sebuah kunci rumah. Setelah bertahun-tahun mencari wasiat orang tuanya sampailah disebuah tanjung yang diujungnya terdapat dua batu berbentuk kodok. Malam telah tiba maka nutfah mencari tempat yang aman yaitu sebuah cekungan berupa relung batu kapur, angin makin terasa menyelinap kedalam cekungan batu kapur, nutfah makin masuk kedalam dengan gontaiia masuk kedalam sebuah lorong menurun (kini diberi nama relung andika) lalu masuk lagi kedalam yang ada sebuah latar dan ruang agak sempit yang hawanya hangat (relung balemuko).
Kemudian nutfah menemukan sebuah pintu besi untuk masuk dalam gua yang kanan-kirinya dijaga seekor naga dan diatasnya bertenger burung garuda mengepakkan sayapnya dan pintu itu bernama gerbang paksi tatsoko. Kunci peninggalan orang tuanya diambil dan dimasukkan kelubang kunci pintu besi, setelah dibuka ternyata ini adalah pintu istana maharani peninggalan orang tuanya atas pemberian raja dan ratu katak di tanjung kodok dan akhirnya sampai sekarang gua itu dibuka
Read more »

Cerita Tentang Pegambil Api




Antara banyak cerita dongeng di China, terdapat ramai pahlawan yang cerdik dan gagah berani untuk mendatangkan kebahagiaan kepada rakyat, Suiren iaitu pengambil api merupakan salah seorang daripada mereka.

Pada zaman silam, orang tidak tahu ada api dan juga tidak tahu bagaimana menggunakannya. Pada malam hari, gelap gulita di mana-mana, hanya haiwan liar sedang mengaum, ramai orang sangat takut dan hanya berkumpul bersama-sama pada cuaca yang sangat sejuk. Disebabkan tidak ada api, makanan hanya dapat dimakan mentah-mentah doleh manusia, oleh itu, manusia sering-sering jatoh sakit dan jangka hayat pendek.

Ada dewa di langit yang bernama Fu Xi, dia bersedih setelah mendapati kehidupan di kalangan rakyat sangat sukar. Untuk menyebabkan orang mengetahui kegunaan api, dewa Fu Yi telah membaca mantera supaya hujan lebat turun di hutan. Tiba-Tiba, sebatang pokok disambah petir dan pokok itu dibakar dan sangat cepat menjadi kebakaran yang membara. Ramai orang sangat takut dan melarikan diri dari tempat itu. Sebentar, hujan lebat telah berhenti, hari mulai gelap gulita, dan lebih sejuk selepas hujan. Orang yang melarikan diri juga berkumpul bersama-sama, mereka sangat takut ketika menyaksikan pokok yang sudah dibakar. Pada ketika itu, ada seorang pemuda mendapati, bunyi haiwan liar mengaum di kawasan sekitar tidak didengar. Dia berfikir, apakah haiwan liar takut akan cahaya api ? Oleh itu, dia dengan gagah berani pergi ke tempat yang berapi, dia terasa sangat panas. Dia dengan gembira panggil sekelian pergi ke sana sambil berkata: “Api ini tidak menakutkan kami, dan juga membawa keterangan dan kepanasan kepada kami”. Pada ketika itu, ramai orang juga mendapati, di tempat yang tidak jauh, ada haiwan liar yang mati dalam kebakaran besar dan mengeluarkan aroma yang menyedapkan. Mereka berkumpul di tepi api dan memakan daging haiwan liar yang sangat enak. Sejak itu, mereka tahu api adalah sangat berharga, kemudian, mereka memungut ranting pokok, menyalakan longgokan ranting pokok dan mengekalkannya. Pada setiap hari, ada orang mengawal di tepi api, supaya api tidak dapat dipadamkan. Namun, pada suatu hari, orang yang berkawal di tempat itu telah tidur, api telah padam setelah ranting pokok dibakar hangus. Ramai orang sangat sedih kerana mereka telah kembali ke kegelapan dan kesejokan.

Setelah mengetahui hal tersebut, dewa Fu Xi datang ke mimpi seorang pemuda yang terlebih dahulu menemukan kegunaan api dan memberitahu dia bahawa di barat yang jauh, terdapat negara Suiming yang mempunyai bahan yang menyalakan api, anda boleh mengambil api dari negara itu. Pemuda itu sedar dari mimpi dan teringat kenyataan yang dicakap oleh dewa, oleh itu dia berikrar pergi ke negara Suiming untuk mencari bahan menyalakan api.

Pemuda itu telah tiba di negara Suiming pada akhirnya setelah merentasi gunung tinggi, mengharungi sungai yang besar, menembusi hutan dan mengatasi banyak sukaran. Namun, tempat itu tidak ada sinaran matahari dan tidak berbeza siang hari dan malam, berada dalam gelap gulita dan sama sekali tidak ada api. Pemuda itu merasa sangat kecewa dan hanya duduk di bawah sebatang pokok yang besar untuk merehat. Tiba-tiba, pemuda itu melihat ada cahaya yang menerangi kawasan sekitarnya. Pemuda itu segera berdiri dan mencari sumber cahaya. Pada ketika itu, dia melihat beberapa ekor burung sedang mematok ulat di pokok. Asal saja mereka mematok pokok, percikan api akan dikeluarkan dari pokok itu. Pemuda itu dengan segera menggunakan ranting pokok yang kecil untuk bergesek dengan ranting pokok yang besar, ranting pokok itu memancarkan cahaya, tetapi tidak dibakar. Pemuda itu tidak putus asa, dan dengan sabar menggunakan pelbagai ranting pokok untuk mengadakan pergesekan. Pada akhirnya, ranting pokok itu mengeluarkan asap dan berapi. Pemuda itu sangat gembira atas kejayaan hal itu.

Pemuda itu telah kembali ke kampung halaman mereka, dan membawa cara pengambilan api dengan pergesekan ranting pokok yang tidak padam secara berkekalan. Sejak itu, manusia tidak hidup dalam kesejukan dan ketakutan. Ramai orang memilih pemuda itu sebagai ketua kaum mereka kerana keberanian dan kecerdikannya dan menyebutnya “ Suiren” iaitu bermakna pengambil api.
Read more »

Singa dan Nyamuk

Seekor singa sedang tidur-tiduran di sebuah padang rumput di hutan. Karena perutnya sudah kenyang, ia pun tertidur. Di tengah-tengah tidurnya yang pulas seekor nyamuk terbang mengelilingi sang raja hutan tersebut. Si nyamuk hendak mengisap darah singa itu. Suara nyamuk yang mendengung membuat singa terbangun.. Ia merasa terusik dengan si nyamuk.

”Mmhhh… Awas kau nyamuk! Kau sudah mengganggu tidurku. Singa berusaha menangkap si nyamuk tapi dengan gesitnya si nyamuk bisa menghindar. ”Kau menyombongkan dirimu sebagai raja binatang. Tetapi aku tak takut padamu,” ejek Nyamuk.

Singa marah sekali. Sementara itu nyamuk mencari kesempatan untuk menggigitnya. Mengakulah kalah, Taring dan cakarmu yang tajam itu pun tak mampu menyakiti diriku. Nah sekarang giliranku,” kata nyamuk lagi. Kemudian ia mengembangkan sayapnya sambil mengepak-ngepakkannya dengan dahsyat. Tak lama, nyamuk-nyamuk lain berdatangan.

”Pasukan serbu….” teriaknya. Kawanan nyamuk pun segera menyerbu. ”Tolong…” teriak Singa sembari menggaruk wajahnya. Karena tak tahan, Singa melompat ke sungai untuk mengompres wajahnya yang bengkak. ”Sekarang akuilah kekalahanmu,” seru Nyamuk. Lalu ia terbang dengan congkaknya. Tiba-tiba ia terjerat ke dalam sarang laba-laba. Ia berusaha keras untuk meloloskan diri. Tetapi laba-laba itu dengan cepat menyerang dan membunuhnya. ”Oh, tak pernah kubayangkan aku akan mati oleh makhluk sekecil ini setelah berhasil mengalahkan Singa si Raja hutan,” tangisnya..

Sumber (e-smartschool.com)

Read more »

Si Gembala Pembohong

Si Gembala Pembohong

Di suatu desa ada seorang anak gembala. Setiap hari dia menggembalakan kambingnya di padang rumput agak jauh dari desa. Si Gembala itu anak yang nakal. Dia suka berbuat usil dengan teman-temannya. Pada suatu hari yang panas, dia sedang menggembala kambing-kambingnya di sebuah padang rumput, tak jauh dari desanya. Di kelompok lain, kambing-kambing orang-orang desa digembalakan juga, meski tidak ada yang menjaganya. Tiba-tiba, dia punya ide jahat untuk membohongi warga desa. Kemudian dia berteriak keras, "Ada serigala! Ada serigala! Tolong... tolong...tolong!" "Serigala mau makan kambing-kambing kita." Dia berharap warga desa mendengar teriakannya dan segera berlari ke arah padang rumput.

Warga desa yang mendengar teriakan anak itu segera berlari ke padang rumput untuk menyelamatkan kambing-kambing mereka. Namun ketika mereka sampai, ternyata tidak ada serigala. Hanya anak gembala itu yang tertawa terpingkal-pingkal melihat warga desa yang telah dibohonginya.

Keesokan harinya, anak gembala tersebut mengulangi tipuannya. Dia berteriak lebih keras dari sebelumnya, “ada serigala…. Ada serigala… kambing-kambing kita mau dimakan… Warga desa kembali bergegas hendak menyelamatkan kambing-kambing mereka. Anak gembala itu kembali tertawa terpingkal-pingkal.

Sampai pada suatu hari, segerombolan serigala benar-benar datang menghampiri kambing-kambing anak gembala itu. Si anak gembala begitu ketakutan dan segera berteriak keras sekali, "Tolooong... toloooong, ada serigala mau makan kambing kambing ku, tolong!" Para warga desa mendengar teriakan anak gembala itu. Namun mereka diam saja, dikira pasti itu tipuan anak gembala itu lagi. Maka mereka diam saja di desa meneruskan pekerjaan mereka. Malang si anak gembala, semua kambingnya habis dimakan serigala.

Begitulah nasib yang menimpa anak yang sering berbohong: bahkan berkata benar pun tidak ada orang yang akan percaya.

Pesan Moral : Jangan suka berbohong pada orang lain, karena jika sering berbohong maka orang lain akan menjadi tidak percaya dengan perkataan kita.

Read more »

Kancil dan Harimau



Pada suatu siang, setelah Kancil lelah berlari, ia segera menuju sebuah tempat yang sejuk dibawah pohon beringin. Kancil merebahkan badannya hendak beristirahat. Matahari bersinar terik, sementara angin bertiup sepoi-sepoi menambah suasana hutan menjadi sejuk dan segar. Tak heran jika mata Kancil mulai mengantuk.


Dilihatnya, diatas pohon, seekor ular juga sedang tidur. Kancil membiarkannya.


Tiba-tiba muncul seekor harimau besar yang beringas dan kelaparan.


“Ah, sepertinya siang ini aku jadi makan enak !” katanya. “Siang ini Kancil akan menjadi santapan makan siangku, nyammmm !”


Alangkah terkejut dan takutnya Kancil. Ia hendak berdiri dan lari, tetapi kalah cepat. Kaki Harimau itu sudah memegang dan menindih lehernya.


“Hayo, mau kemana kamu.” Bentak Harimau.


Kancil ketakutan setengah mati. “Ssssstttttt !!!! jangan berisik !” kilah Kancil sambil berbisik.



“Ada apa ?” kata Harimau.


“Lihat diatasmu ?”


Harimau mendongakkan kepalanya. “Apa itu ?”


“Aku disuruh menjaga ikat pinggang milik pak tani.”


“Ikat pinggan macam apa, sehingga kamu mau menunggunya ?”


“Ah, kamu ternyata belum tahu. Ini rahasia, lho. Jangan bilang ke siapa-siapa.”

“Ya, katakan saja padaku. Aku akan menyimpan rahasia itu.”


Tampaknya Hariamau sudah mulai bisa diakali oleh Kancil. “Barang siapa yang memakai ikat pinggang itu, ia akan kuat dan tahan dari senjata apapun.”



“Ah, masa ?” tanya Harimau tidak percaya.


“Kalau tidak percaya ya sudah. Tapi ini rahasia, ya.”


“Eh, tapi… kalau aku yang memakainya, kira-kira aku bisa kuat nggak, ya ?”


“Ya, tentu saja.”


“Bolehkan, aku mencoba memakainya ?” rayu Harimau.


“Jangan ! Nanti aku dimarahi sama pak tani.”


“Ah, Cil. Sebentar saja. Masa tidak boleh. Kamu kan sahabatku yang paling baik ?”


Kancil seolah-olah berpikir sebentar. “Baiklah, tapi lepaskan aku dulu.”

Harimau segera melepaskan cengkeramannya.



“Kamu boleh memakai ikat pinggang itu, sepuas kamu. Tapi aku akan sembunyi dulu biar pak tani tidak melihat dan marah padaku.”


“Ya… tapi jangan jauh-jauh, ya. Aku masih punya urusan sama kamu.”


“Iya… masa kamu juga tidak percaya sama aku.” Kancil segera melompat berlari meninggalkan Harimau yang masih tertegun memandangi ikat pinggang yang sebenarnya adalah seekor ular.


“Wah, indah sekali ikat pinggang ini. Aku pakai, ah….”


Harimau segera menarik ekor ular yang sedang tidur itu dan melilitkannya dipinggangnya. Alangkah terkejutnya si Ular karena tidurnya terusik. Ular marah bukan kepalang. Ia segera menyerang Harimau dan menggigitnya. Harimau yang juga terkejut mengetahui kalau itu ulah, merasa ditipu oleh Kancil. Perkelahian antara Ular dan Harimau terjadi. Ular kalah dan melarikan diri.


“Awas, kamu Cil ! Aku cari kamu, dan aku makan kamu, ggrrr… ggrrr… ggrrr…”

Read more »

Rakus

anjing.jpgRakus

Ada seekor anjing yang sangat rakus. Anjing itu suka merebut makanan kawannya. Kalau anjing lain mendapat daging, dikerjarnya dan direbutnya daging itu.

Pada suatu hari anjing rakus itu merasa lapar sekali. Ia berlari kesana-kemari mencari makanan. Di dekat pasar si rakus mencuri sepotong daging. Daging itu digigitnya dan dibawa pulang.

Anjing itu berjalan melalui jembatan kecil di atas sungai. Air sungai itu sangat jernih. Anjing itu melihat ke bawah. Bayangannya tampak jelas.

Si rakus mengira ada anjing lain yang menggigit daging juga dengan cepat ia melompat ke dalam air. Ia mau merebut daging itu.

Daging yang dimulutnya terlepas, dan hanyut dibawa air. Ternyata tidak ada anjing lain. Yang diserangnya itu hanya bayangannya sendiri. Si rakus basah kuyup. Dengan susah payah ia naik ke darat. Si rakus pulang dengan lesu. Perutnya makin lapar.

Read more »

Kancil dan Gajah

Kancil terpeleset dan masuk kedalam jurang yang agak dalam.
Ia tidak bisa melompat keluar. Kaki-kakinya terlalu kecil untuk itu. Berkali-kali ia mencoba untuk melompat keluar jurang, tapi berkali-kali pula Kancil gagal.
Akhirnya Kancil putus asa. Ia berpikir, ia pasti akan mati didalam jurang tersebut. Kancilpun sedih. Ia menangis keras-keras. Setiap kali ia berteriak meminta tolong, namun tak ada yang mendengarnya.
Hampir setengah hari, Kancil berteriak-teriak meminta tolong, tetap saja tidak ada yang mendengar. Kembali Kancil menangis sejadi-jadinya.
Kancil dan Gajah
Kancil dan Gajah
Tanpa diduga, Giga Gajah lewat tempat itu. Mendengar tangisan Kancil, Giga melongokkan kepalanya melihat ke dalam jurang. DIlihatnya Kancil sendirian sedang menangis.
“Cil ?” kata Giga Gajah. “Sedang apa kamu di dalam jurang situ ?”
Kancil mendongakkan kepalanya, dilihatnya Giga Gajah. Dalam hati ia berteriak kegirangan. Dasar Kancil yang cerdik dan banyak akal.
“Hai, Giga !” teriak Kancil. “Aku sedang sembunyi menyelamatkan diri.”
“Menyelamatkan diri ? Dari apa ?” tanya Giga keheranan.
“Lihatlah keatas. Langit akan segera jatuh menimpa hutan dan seisinya. Kalau aku bisa sembunyi didalam jurang ini, tentunya aku tidak akan kejatuhan langit.”
Giga mendongakkan kepalanya. Ia melihat awan-awan yang bergerak tertiup angin, dan kelihatan agak rendah. Giga ketakutan. Dikiranya langit akan jatuh betulan.
“Cil, boleh aku ikut sembunyi didalam jurang ini ?” tanya Giga ketakutan setengah mati.
“Jangan, tidak muat. Cari tempat lain saja. Langit pasti akan segera jatuh.” sahut Kancil.
“Cil, tolong aku. Biarkan aku sembunyi bersama kamu, ya ?” pinta Giga.
Kancil seolah berpikir-pikir. “Baiklah. Kalau kamu masuk kedalam jurang ini, badan kamu yang besar itu pasti akan menimpa aku. Bagaimana kalau setelah kamu masuk, aku berada diatas badanmu ?”
“Baiklah, asal aku bisa selamat dari bencana ini.”
Tanpa pikir panjang lagi, Giga Gajah melompat masuk kedalam jurang. Kancilpun demikian, ia melompat diatas tubuh Giga hingga jarak tepi jurang menjadi dekat, dan Kancil bisa melompat keluar jurang.
“Lho, Cil ? Kok, kamu keluar jurang ? Katanya langit mau jatuh ?” kata Giga keheranan.
“He..he..he… maaf Giga. Sebenarnya aku tadi terperosok kejurang dan tidak bisa keluar. Tapi setelah melompat diatas tubuhmu, aku jadi bisa keluar jurang. Langit nggak jadi jatuh, kok.”
Kancil segera berlari meninggalkan Giga Gajah yang marah-marah dan menangis didalam jurang.
Read more »

Kancil dan Kura-kura

kancil dna kura-kura

kancil dan kura-kura

Pagi hari yang cerah, tampak Kancil tertidur dibawah sebuah pohon yang rindang. Matahari sudah muncul, tapi Kancil belum bangun juga. Hingga seekor Kura-kura berjalan menghampiri dan membangunkannya.

“Cil, bangun ! Hari sudah siang, nih.” kata Kura-kura.

Kancil terbangun, meskipun dengan malas.

“Ada apa sih, mengganggu orang sedang beristirahat saja ?” kata Kancil sambil masih berbaring di rumput.

“Sudah siang, nih.” kata Kura-kura lagi. “ Dari pada tiduran begitu, lebih baik jalan-jalan atau lari-lari gitu, biar badan sehat.”

“Cerewet, ah kamu.” kata Kancil sedikit jengkel. “Kalau aku mau lari-lari kamu bisa menemani aku ?”

Kura-kura diam sebentar, memikirkan maksud Kancil. “Maksudmu bagaimana ?” tanya Kura-kura.

“Gini aja, deh. Kamu aku tantang untuk lomba balapan lari ? Mau nggak ?” tanya Kancil sombong.

Sekali lagi Kura-kura berpikir.

“Baik, aku terima tantanganmu. Tapi tidak hari ini, ya ? Karena aku masih ada urusan ke temanku.” jawab Kura-kura.

“Okey. Besok pagi aku tunggu kedatangan kamu di sini.”


..... keesokan harinya pun tiba

kancil dan kura-kura

Keesokan harinya, Kura-kura menemui Kancil di bawah pohon tempat mereka berjanji kemarin.

“Ah, saya kira kamu sudah lupa dengan tantanganku kemari.” tanya Kancil sombong.

“Nggak lah. Aku senang bisa berlomba lari dengan kamu, Cil.” jawab Kura-kura.

“Bagaimana ? Sudah siap ?”

“Yup !”

“Aku hitung, ya ? Satu… dua… ti-gaa !!!”

Kancil segera berlari mendahului Kura-kura. Sementara Kura-kura tertinggal jauh di belakang.

Beberapa saat kemudian Kancil berhenti. Ditolehnya kebelakang. Tak dilihatnya si Kura-kura, yakin ia pasti menang. Dengan sedikit tersenyum, Kancil memanggil Kura-kura.

“Hey ! Ayo ! Dimana kamu ? Nyerah kalah, nih ?”

“Aku disini, Cil ? Didepanmu !” teriak sebuah suara dari arah depan Kancil.

Alangkah terkejutnya Kancil, Kura-kura ternyata sudah berjalan didepannya. Kancil segera berlari lagi, kali ini lebih cepat dari yang pertama.

Kira-kira 500 meter kemudian, Kancil berhenti lagi. Ditolehnya kebelakang, Kura-kura sudah tidak tampak lagi. Kali ini, aku pasti menang. Pikir Kancil.

“Kura-kura, kamu dimana ?” teriak Kancil.

“Hai, aku disini Cil !” jawab Kura-kura yang ternyata sudah ada didepan Kancil.

“Hah !!!” Kancil terkejut. Tanpa berpikir lagi, Kancil berlari lebih cepat lagi.

Setelah agak jauh, Kancil berhenti. Ia tampak terengah-engah. “Wah, Kura-kura kok bisa mengalahkan aku, ya ?”

Untuk memastikan dimana keberadaan Kura-kura, Kancil berteriak memanggil Kura-kura. “Kura-kura, kamu ada dimana ?”

“Aku didepanmu, Cil !” jawab Kura-kura.

Alangkah terkejutnya Kancil. Ia tidak tahu, bahwa semua itu adalah akal dari Kura-kura. Kura-kura meminta bantuan teman-temannya untuk masing-masing berada di sepanjang jalan tempat lomba lari antara Kancil dan Kura-kura. Jadi Kura-kura yang ada didepan Kancil sebenarnya adalah teman-teman dari Kura-kura pertama yang menerima tantangan balap lari kemarin.

Kali ini Kancil berlari sangat cepat. Ia memacu kaki-kakinya secepat kilat. Meskipun berkeringat dan nafasnya terengah-engah, ia tetap berlari sekuat tenaga.

Hingga tanpa disadari, Kancil terperosok masuk kedalam jurang yang dalam. Dan ia tidak bisa keluar dari jurang tersebut.

Read more »

Aku Gak Apa-apa Kok?!

Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.

Waktu ada test kolesterol di PSE sempat iseng ikut daftar, kaget juga ternyata kolesterol saya 204, sedikit diatas batas normal. Sejak saat itu saya jaga pola makan saya, kurangi daging merah dan berlemak. Lalu iseng cek lagi waktu di Jogya kemarin, ternyata gula darah, kolesterol, asam urat dan tri gliserid normal semua. Dengan kemajuan teknologi test darah cukup beberapa menit saja selesai dan banyak bertebaran di berbagai toko obat di mall.


Maka saya paksakan suami dan anak-anak juga test darah. Apa salahnya sih? Suami ngotot katanya dia ok-ok aja, pola makannya jauh lebih sehat dari saya. Memang dia sangat suka sayuran, tapi kopinya aduuh… kuat banget dan berat badannya naik terus. “Aku gak apa-apa kok, percaya deh” katanya. Saya percaya kalau sudah ditest lah. Hasil test menunjukkan kolesterolnya 230, asam uratnya 7,7 dan trigliseridnya 500. Waduuuh… semuanya bukan diatas normal lagi, kagak normal banget. Dia kaget dan tidak percaya. Akhirnya ia sendiri berjanji merubah dan menjaga pola makannya dibantu dengan supplement dan olah raga. Kalau gak merasa sakit, mana mau pasien minum obat dan mengubah pola makan. Saya cuma bisa cerewet mengatur segala macem, tapi akhirnya keputusan ditangan dia. Toh saya tidak bisa mengawasi nya setiap saat. Saya hanya bilang, anak-anak dan istrinya masih membutuhkan dia.


Memang paling susah meyakinkan diri sendiri, pasti pada akhirnya menjadi sangat subyektif. Untuk masalah kesehatan, kita merasa kita baik-baik saja. Gak apa-apa kok, gak pusing, gak meriang, gak mual. I am just doing fine. Tapi ternyata dengan alat test yang kesalahannya kurang dari 5%, hasilnya menunjukkan bahwa kita tuh sudah diluar batas normal… walaupun belum sampai ambrug. Apa kita mau nunggu sampai sakit parah terkapar baru bertindak? Ternyata memang sebagian besar penyakit seperti kolesterol, darah tinggi, asam urat dsb disebabkan oleh kita sendiri yang masa bodoh dengan tubuh kita sendiri. Pola makan, istirahat, kerja keras yang tidak seimbang akhirnya mengganggu kesehatan kita.


Injil hari ini mengingatkan kita bahwa kita pun perlu sering melakukan pemeriksaan batin, sakitkah aku, lelahkah batinku, atau justru kita yang sering menyakiti orang lain? Dengan tidak sadar orang yang terluka batinnya dengan mudah melukai orang lain disekitarnya. Tidak mudah memang melakukan pemeriksaan batin, sungguh dibutuhkan kerendahan hati untuk membuka diri. Apakah pasangan kita bahagia bersama kita, apakah mereka sungguh merasa kita cintai? Bersiaplah dengan ‘curhat’ mereka kalau ternyata kita ‘kurang’ menunjukkan cinta kita. Dan dengan demikian kita baru bisa berteriak mengatakan, aku memang sakit dan perlu disembuhkan. Aku perlu tabib, Tabib yang ajaib, Dialah Sang Penyembuh yang selalu siap mencintai kita seutuhnya.


Lagi-lagi tentang orang Farisi, yang dengan mudah menghakimi siapa yang pantas bergaul dengan mereka. Pemungut cukai, yang pekerjaannya menarik pajak orang sebangsanya dan menyerahkannya ke bangsa Romawi, penjajah saat itu; dipandang sebagai orang yang berdosa memeras bangsanya sendiri. Tapi Yesus dengan kasihNya justru datang kepada mereka. Ia membenci pekerjaan pemungut cukai, tapi Ia mengasihi mereka. Akhirnya para pemungut cukai itu mengikuti Dia, dan sudah pasti meninggalkan pekerjaannya. Itulah kesembuhan yang dibawa Yesus.


Pertobatan yang sungguh-sungguh membuat kita orang berdosa mengenali kesalahan kita dan berbalik kepada Dia. Orang Farisi tidak melihat apa yang dilihat Yesus karena sudah terbiasa dengan penghakiman dan merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Kalau kita selalu merasa diri kita di atas orang lain, memenuhi standard maka kita akan sulit melihat orang lain seperti Yesus melihat mereka. Pelan tapi pasti kita sudah dimasuki ragi orang Farisi yang pada akhirnya mengutamakan apa yang kelihatan, seperti persembahan dan kolekte serta tata acara ibadah. Kesombongan rohani pun bisa menyulitkan kita dan menghalangi kita untuk dapat memiliki serta menunjukkan kerendahan hati untuk menyapa dan menerima orang lain apa adanya.


Kalau kita gak nyadar bahwa kita sakit, bagaimana bisa kita minta dan mau sembuh? Mari dengan rendah hati kita membuka diri menerima cinta Tuhan seperti renungan mas Jeffry Dompas pagi ini : When you feel exhausted, maybe you are reaching to the top as you walk the mountain trail. But if you feel relaxed, it maybe that you are on your way down…These paradox quote made me think of my own spiritual life and today’s passage is a reaffirmation of my firm belief that no matter what, we should not be ashamed to approach our Lord for mercy and the forgiveness of our sins and start anew. For He is there for us and precisely for this purpose He made Himself available.


GBU

Thanks to Ratna Ariani
Read more »

Kelinci dan Kura-Kura

http://i44.tinypic.com/5dkzva.jpg

Hari itu cerah sekali, tetapi binatang-binatang di dalam hutan tidak memperhatikan cuaca yang indah itu. Mereka sedang mempertengkarkan siapa yang dapat berlari paling cepat. Seperti biasa, Kelinci lalu membual.
"Sampai saat ini, akulah pelari yang paling cepat ! Aku akan berlomba dengan kalian. Hadiahnya adalah kancing emas ini. " Tupai, maukah kamu berlomba denganku ?"
"Sudah pasti tidak, Kelinci," kata Tupai dengan geli. " Kaki-kakimu terlalu panjang untukku !"
"Serigala, apakah kau ingin berlomba denganku ?" Serigala menggelengkan kepalanya.
"Jadi tidak ada yang berani berlomba denganku ? Cerpelai ? Landak ? ........Tak ada satupun yang mau ?"
Untuk sesaat semuanya diam, kemudian sebuah suara yang lembut berkata, "Kalau kau mau, aku akan mencobanya !"


Kelinci melihat berkeliling, mencari-cari asal suara itu lalu ia melihat Kura-kura merayap perlahan-lahan menyeberangi lapangan di tepi hutan. Kelinci merasa geli tapi ia mencoba tetap serius ketika menjawab Kura-kura.
"Ah, Kura-kura temanku yang baik ! Akhirnya kau bergabung juga dengan kami !"
"Aku tak punya alasan untuk terburu-buru," jawab Kura-kura. "Lagipula, hari ini indah sekali."
Kelinci menunjukkan kepadanya kancing yang berkilauan ditimpa sinar matahari itu.
"Kelihatannya, kaulah satu-satunya penantangku, Kura-kura. Apakah kau mau berlomba denganku ke jembatan batu di seberang hutan sana ? Kau harus mengakui bahwa hadiahnya bagus sekali !"

"Hadiahnya sangat bagus, Kelinci; benar-benar sangat bagus. Dan bagiku berlomba ke jembatan di seberang hutan itu cukup layak. Ya, Kelinci, aku akan berlomba denganmu," Kura-kura menjawab perlahan-lahan dan hati-hati.
Kelinci tertawa terbahak-bahak. "Si Lambat, kamu tidak serius bukan ! Kamu tak mungkin menang jika berlomba denganku ! Kamu pasti bergurau !"
Binatang-binatang lain ikut tertawa.
Kura-kura menggelengkan kepalanya pelan-pelan. "Aku tidak bergurau, sungguh!" Kura-kura meyakinkan mereka semua. "Sekarang, siapa yang akan memberi aba-aba untuk berangkat ?"
Kelinci masih tertawa ketika mereka berdua berdiri sejajar dan menunggu aba-aba dari Burung Hantu.
"Tu-whit tu-whoo!"


"Baru saja suara "tu-whoo" keluar dari paruh Burang Hantu ketika Kelinci melesat seperti angin melewati pohon-pohon. Kura-kura masih merayap ke tepi hutan, tetapi kelinci sudah tidak kelihatan lagi.
"Ayo, Kura-kura !" binatang-binatang lain bersorak memberi semangat sambil tertawa. "Dapatkah kamu berjalan lebih cepat lagi?"
"Aku heran mengapa kau mau berlomba, Kura-kura!" kata Cerpelai. "Semua binatang tahu bahwa Kelincilah yang akan menang!"
Kura-kura tidak senang mendengar olok-olokan itu, tetapi ia tidak mau memperlihatkan bahwa perasaannya terluka. Bahkan ia terus merayap, sambil terus menerus berkata kepada dirinya sendiri :
"Lambat tapi mantap akan memenangkan perlombaan, lambat tapi mantap...."

Dengan gesit Kelinci berlari melewati pohon-pohon, melompati tunggul-tunggul kayu, menyelinap di antara tanaman-tanaman perdu. Sesudah beberapa saat ia berhenti sebentar dan mendengarkan. Tak ada suara apapun yang mengikutinya. Ia melihat berkeliling.
Tak ada tanda-tanda dari si Kura-kura. Kelinci tertawa sendiri. Ia telah berlari jauh melampaui Kura-kura. Dengan malas ia berjalan beberapa langkah lagi kemudian berhenti. Sekarang ia sudah berada jauh di ujung hutan, dan jembatan batu tua yang menjadi sasaran lomba sudah terlihat, tak jauh dari situ.


Tapi sayang, di situ tak ada seekor binatangpun yang menyaksikan Kelinci meraih kemenangannya. Kelinci, yang suka berlagak, tidak puas kalau tak ada satupun yang mengelu-elukan kemenangannya. Maka diputuskannya untuk menunggu sebentar sampai ada binatang lain yang hadir di situ. Sambil menunggu iapun berbaring di bawah pohon. Pikirnya, jika nanti beberapa binatang sudah berkumpul ia akan melanjutkan lari ke jembatana itu dan meraih kemenangannya.
Tapi hari sangat panas, Kelinci harus memejamkan matanya untuk menghindari cahaya matahari yang menyilaukan. Dan tempat itu sangat nyaman untuk beristirahat.................
Kelinci pun tertidur.

Sore hari barulah Kelinci terbangun. Matahari sudah tidak terlalu panas lagi. Cahayanya mulai meredup di balik pohon-pohon. Kelinci dapat merasakan angin senja yang dingin mulai bertiup. Ketika ia bangun, didengarnya suara binatang-binatang lain, mendengus dan mencicit dengan gembira. "Astaga ! Mereka sudah ada di sini untuk menyaksikan kemenanganku !" pikirnya.
"Kura-kura yang malang. Ia pasti masih tertinggal jauh di belakang!"
Kelinci meregangkan tubuhnya, kemudian siap berlari lagi.

Kelinci tidak tahu, bahwa selama ia tidur pulas, dengan susah payah tapi mantap. Kura-kura terus berjalan menyeberangi hutan.
Dan Kelinci telah tertidur lama sekali, cukup lama, sehingga Kura-kura dapat dengan perlahan-lahan tapi pasti melampauinya.
-Kelinci tidak menyadari bahwa binatang-binatang lain sedang mengelu-elukan Kura-kura dan bukan dia. Kelinci tidak tahu bahwa sekarang Kura-kura tinggal beberapa langkah lagi saja dari jembatan batu tua itu.....

Tiba-tiba, Kelinci melihat Kura-kura. Dengan terkejut disadarinya apa yang telah terjadi.
Ia tak percaya telah berbuat bodoh. Tapi hal itu adalah kenyataan. Sekarang, meskipun ia berlari sekencang-kencangnya, tak mungkin lagi baginya melampaui Kura-kura! Semua binatang telah hadir di situ untuk menyaksikan Kura-kura memenangkan perlombaan !


Dengan susah payah, Kura-kura yang lembut sambil tersenyum berjalan dua langkah terakhir ke jembatan batu. Ia telah menang. Ia sangat, sangat lelah dan kepanasan, tetapi sedikitpun tidak dipedulikannya. Ia telah menaklukkan Kelinci yang suka membual itu! Binatang-binatang yang lain bersorak-sorak.
"Hidup Kura-kura! Bagus! Kamulah pemenangnya !"
Suara-suara itu terdengar bagaikan musik di telinga Kura-kura yang sedang terengah-engah kepayahan.

Dengan tidak menghiraukan kelelahannya, Kura-kura melangkah lagi ke atas jembatan lalu berdiri di situ, berseri-seri dan bangga dan dengan malu-malu melambai-lambai kepada kerumunan binatang-binatang itu. Inilah salah satu yang paling berbahagia dalam hidupnya.


Kelinci yang malang dan bodoh ! Alangkah malunya ia mengingat bahwa setiap binatang memperhatikannya sedang tidur ketika dilalui Kura-kura!
Alangkah malunya karena ia telah dikalahkan oleh Kura-kura! Alangkah menyesalnya ia telah membual dan besar kepala !
"Di sinilah engkau, Kura-kura. Inilah kancing emas hadiahnya," katanya pelan dengan telinga terkulai. " San selamat !"
Binatang-binatang lain tertawa terbahak-bahak.
"Tidak apa-apa, Kelinci," kata Kura-kura dengan ramah, "Simpanlah lagi kancing itu. Aku senang sekali hari ini. Tapi ingatlah selalu; lambat tapi mantap akan memenangkan perlombaan, lambat tapi mantap.............."

T A M A T
Read more »